Fiqh Al-Lughah, Dalam Pandangan Ullama Arab Terdahulu

Pengertian Fiqh AL-Lughah, Fiqh Al-lughoh menurut bahasa terdiri dari dua kata yaitu kata al-fiqh yang berarti pemahaman dan al-lughah berarti bahasa jadi arti Fiqh Al-Lughah adalah pemahaman tentang bahasa. (Emil  Badi Yaqub, Fiqh Al-Lughah al-arabiyah Wa Khashaisuha, Dar al Tsaqofah Islamiyah). Dalam kamus bahasa Arab kata Al-Fiqh berarti ilmu, jadi Fiqh Al-Lughah bisa di artikan ilmu tentang bahasa.

Sedangkan Fiqh al Lughah menuurut istilah, para ulama ahli bahasa memberikan defenisi yang berbeda-beda. Fiqh Al-Lughah merupkan sebuah kajian tentang perbandingan bahasa Arab dan bahasa-bahasa samiyah lainnya (Tamam Hasan, Al-Ushul, Dar al-Tsaqofah, 1991,hal 259).  

Sedangkan menurutAbd Tawwab menjelaskan bahawa Fiqh Al-Lugahah adalah ilmu yang mempelajari  rahasia bahasa, perkembangan bahasa, dan kajian fenomena bahasa yang berbeda-beda ditinjau dalam kajian sejarahnya maupun penjelasan tentang bahasa itu. (Ramdan Abu Tawwab, Fushul Fil Fiqh Al-Lughah,  Maktabah , Arabiyah Qahirah, 1992, hal 10).

Berdasarkan definisi di atas arti dari Fiqh Al-Lughah adalah ilmu yang mengkaji bahasa dari segi perkembangan, makna lafazh, bentuk lafazh yang didasarkan pada kajian sejarah dan perbandingan dari bahasa-bahasa tersebut.


Fiqh Al-Lughah dalam pandangan Ulama Arab Terdahulu


Semenjak datangnya kebangkitan peradaban yang dikembangankan Islam, orang Arab sudah mengeanl tiga istilah kebehasaan yaitu: 'Al-'Arabiyah ya;ni bahasa Arab yang Al-Qur'an, syai'ir yang dibentuk dengan bahasa tersebut. Kedudukan Al-Arabiyah ini sangat penting sehingga Umar bin Khatab mengatakan: "pelajarilah Arabiyah itu karena Arabiyah dapat mengembangkan akal dan menambah kehormatan". Kemudian istilah Arabiyah itu berkembang dan pada perkembangan berikutnya  Al-Arabiyah itu sama dengan Nahwu . Abu Aswad Al-Duali adalah orang pertama yang mengembangkan dan membuka jalan untuk kajian Nahwu dan kaidah-kaidahnya.

Kaitannya dengan Nahwu yang didalamnya dikaji tentang pentingnya I'rab (Baris Kata) Ibnu Faris mengatakan "begitulah kebutuhan kita  kepada ilmu bahasa Arab, sesungguhnya i'rab itu yang membedakan antara makna. bukankah kamu tidak melihat apabila sesorang mnegatakan زيد مااحسن  apakah ta'jub, istifham atau dzam kecuali dengan adanya adanya I'rab (baris)"


Adapun istilah Nahwu menurut pendapat yang di unggulakan semenjak abad pertama hijriayah, orang Arab mengetahui dengan istilah 'Arabiyah. Seperti dalam kitab Sibawaih yang merupakan kitab pertama hahwu  yang sampai kepada kita didalamnya  mengandung kajian tentang nahwu, sharaf dan kajian lainnya tentang bahasa. Ibnu Jini memberikan gambaran  tentang istilah nahwu  dengan mengatakan bahwa nahwu itu adalah Nahwu itu adalah jalan atau cara pembicaraan orang dalam perubahan kalamnya seperti perubahan  I'rab, tastniyah, jama', tahqir, taksir, idhafat, nasab, tarkib, dan lain-lain agar orang yang bukan orang Arab dapat menyesuaikan da;a, kefasihannya lalu dia dapat mengucapkan bahasa Arab dengan benar walaupun dia bukan orang Arab. Apabila ucapan mereka salah maka ucapan itu dikembalikan pada nahwu tersebut. (Ibnu Jini , Al-Khashaish Jilid 1 Hal 34)

Sedangkan yang dimaksud dengan istilah Lughah  dalam pendangan ulama terdahulu adalah sekumpulan lafazh atau mufrodat atau kosakata dengan berusaha  mengetahui makna lafazh, mufrodat atau kosakata tersebut. Jadi seseorang disebut ahli lughah adalah orang yang mengumpulkan mufradat lalu menjelaskan maknanya dan menyusunnya dengan baik. Dengan demikian maka ashab al-Ma;ajim (pembut kamus) disebut ahli lughah seperti alkhalil Ahmad al Farahabadi, al-Zabidi, Ibnu Mandzur, dan lain-lain.

Abdul Latif membedakan ahli lughah dan ahli nahwu dengan mengatakan "ketahuilah bahwa ahli lughah posisinya hendaknya mengutif apa yang diucapkan orang Arab dan jangan menyalahinya, adapun ahli nahwu  hendaknya keadaanya mentasrif (membentuk)  dari apa yang disampaikan ahli lughah. Perumpamaannya ahli hadis dan ahli fiqih. Seorang ahli hadis perannya adalah menyampaikan hadis apa adanya kemudian ahli fiqih dia mendapatkannya, menjelaskan alasan-alasannya serta mengkiaskannya dan dia membuat beberapa contoh yang didasarkan pada hadist itu"  (al-Munzir Fi Ulum al-Lughah wa Anwauha,  juz 1 hal  59).

Sementara itu mengenai istilah Fiqh Al-Lughah orang Arab tidak mengetahuinya kecuali akhir abad keempat Hijriyah ketika Ahmad bin Faris menyebutkan salah satu nama kitabnya:

فقه اللغة العربية وسنن العرب فيكلا مها

Kemudian di ikuti oleh Tsa'libi yang menyusun kitab yang diberinama   فقه اللغة و أسرارالعربة . Penamaan kedua kitab ini dengan Fiqh Al-Lughah oleh Ibnu Faris fan Tsa'libi itu juga bukan berarti mengkhususkan bagi sebuah disilin ilmu kebahasaan tetapi itu hanya sebagai pilihan saja antara dua istilah yaitu Ilmu Lughah atau Fiqh Al-Lughah.