Kenapa Qira’at Al-Quran Berbeda

Bangsa Arab merupakan komunitas dari berbagai suku disepanjang jazirah arab,  setiap suku mempunyai dialek atau dalam bahasa Arab disebut lahjah, dan lahjah disetiap suku itu berbeda. Dengan adanya perbedaan dialek itulah maka timbul perbedaan dalam melafalkan Al-Qur'an, Keanekaragaman dialek itu sebenarnya bersifat natural, dalam artian fenomena yang tidak dapat dihindari lagi. Oleh karena itu, rasulullah membenarkan pelafalan Al-qur’an dengan berbagai qira’at. Sabdanya :


اُنزِل هذاالقرانَ على سبعة احرفٍ

"Al-qur’an itu diturunkan dengan menggunakan tujuh huruf"

Abu Syamah dalam qitabnya Al-Mursyid Al-Wajiz menolak muatan hadits itu sebagai justifikasi qira’ah sab’ah, tetapi konteks hadits itu sendiri memberikan peluang Al-qur’an dibaca dengan berbagai ragam qira’ah.

 Pengertian Qirah'ah Secara etimologi , Qira’at merupakan kata kejadian atau masdar dari kata kerja ‘’qara a’’ (membaca) sedangkan secara terminology  adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal yang disepakati/diperselisihkan ulama mengenai lughat, hadzaf dan whasl yang kesemuanya diperoleh secara periwayatan. Namun, mengenai hal ini para ulama mendefinisikan dari sudut pandang yang berbeda.

1. Menurut Az-Zarqoni
Qira'at adalah suatu mazhab yang yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan Al-qur’an serta sepakat riwayat-riwayat ndan jalur-jalurnya, baik dalam pengucapan huruf-hurufnya ataupun dalam pengucapan bentuknya.

2. Menurut Ibnu Al-Jazari
Qira'at adalah ilmu yang menyangkut cara-cara mengucapkan kata-kata al-qur’an dan perbedaan-perbadaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.

3. Menurut Az-zarkasyi
Qira'at adalah perbedaan (cara pengucapan) lafadz-lafadz al-qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya ataupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif (meringankan), tashqil (memberatkan), dan atau yang lainnya.

4. Menurut Ash-Shabuni
Qira'at adalah suatu mazhab cara pelafalan al-Qur’an yang dianut salah seorang imam berdasarkan sanad-sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.
Perbedaan cara pendefinisian diatas sebenarnya berada pada suatu kerangka yang sama bahwa ada beberapa cara melafalkan Al-Qur’an walaupun berasal dari sumber yang sama, yaitu Muhammad. Adapun deifnisi yang dikemukakan Al-Qasthalani mennyangkut ruang lingkup perbedaan diantara beberapa qira’at yang ada. 

Dengan demikian, tiga unsur qira’at yang dapat ditangkap dari definisi-definfisi diatas, yaitu:
  1. Qira’at berkaitan dengan cara pelafalan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang imam dan berbeda dengan cara yang dilakukan imam-imam lainnya.
  2. Cara pelafalan ayat-ayat Al-Qur’an itu berdasarkan atas riwayat yang bersambung kepada Nabi. Jadi bersif tauqifi, bukan ijtihadi.
  3. Ruang lingkup perbedaan qira’at itu menyangkut persoalan lughot, hadzaf, I’rob, itsbat, fashl dan washl.
Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at

Secara Historis
 Walaupun pada pada awalnya qira’at bukan merupakan sebuah disiplin ilmu, namun Qira’at sebenarnya telah muncul semenjak zaman Nabi SAW masih ada. Ada beberapa riwayat yang dapat mendukung asumsi diatas. Diantaranya pada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa pada suatu ketika ‘Umar bin Al-Khathab berbeda pendapat dengan Hisyam bin Hakim ketika membaca ayat al-Qur’an. ‘Umar tidak puas dengan bacaan Hisyam sewaktu ia membaca surat Al-Furqan. menurut ‘Umar bacaan Hisyam tidak benar dan bertentangan dengan yang diajarkan Rasulullah SAW kepadanya. namun, Hisyam menegaskan pula bahwa bacaannyapun berasal dari Nabi. Seusai shalat , Hisyam diajak menghadap Rasulullah seraya melaporkan peristiwa itu. Nabi menyuruh hisyam mengulangi bacaannya sewaktu shalat tadi. Setelah hisyam melakukannya, Nabi bersabda:
هكذا اُنزِلت اِنّ هذاا القران اُنزِل على سبعة احرفٍ فاقرأُو ماتيسّر منه

Artinya:
“ Memang begitulah Al-Qur’an diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang kalian anggap mudah dari tujuh huruf itu”.

Menurut catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in, yaitu pada awal II H. tatkala para qori’ tersebar di berbagai pelosok. Mereka lebih suka mengemukakan qira’at gurunya dari pada mengikuti qira’at imam-imam lainnya. Qira’at-qira’at tersebut diajarkan secara turun-temurun dari guru ke guru, sehingga sampai kepada imam qira’at, baik yang tujuh, sepuluh ataupun yang empat belas.
Diantara ulama-ulama yang berjasa meneliti dan membersihkan qira’at dari berbagai penyimpangan adalah:

  1. Abu ‘Amr ‘Utsmani bin Sa’id bin ‘Utsman Ad-dani (w.444 H.), dari daniyyah, Andalusia, Spanyol, dalam karyanya yang berjudul at-Taisir.
  2. Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Imarah bin Abu Al-‘Abbas Al-MAhdawi (w.430 H.) dalam karyanya yang berjudul Al- Hidayah.
  3. Abu al-Hasan Thahir bin Abu Thayyib bin Abi Ghalabun al-Halabi (w. 399 H.) Seorang pendatang dari Mesir, dalam karyanya yang berjudul At-Tadzkirah.
  4. Abu Muhammad Makki bin abi Thalib Al-Qairawani (w.437 H.) di Kardova, dalam karyanya yang berjudul At-Tabshirah.
  5. Abu Al-Qasim Abdurrahman bin Ismail, terkenal dengan sebutan Abu Syamah, dalam karyanya yang berjudul al-Mursyd Al-Wajiz.
Cecara  Penyampaian (Kaifiatul-ada’)
 Menurut analisis yang disampaikan Sayyid Achmad Kholil, Perbedaan qira’at itu bermula dari cara seorang guru membacakan qira’at itu kepada murid-muridnya. Kalau diruntut, cara membaca Al-Qur’an yang berbeda-beda itu, sebagaimana dalam kasus ‘Umar dan Hisyam, diperbolehkan oleh Nabi. Lalu para ulama merangkum bentuk-bentuk perbedaan cara melafalkan Al-Qur’an itu sebagai berikut.

  1. Perbedaan dalam I’rob atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan kalimat. Misalnya pada firman Allah:

    الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ

    Artinya:
    “Yaitu orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir” (QS:Annisa [4]:37)

    Kata Al-bakhl yang berarti kikir dasini dapat dibaca fathah pada huruf BA “bi Al-bakhli” atau dlomah “bi Al-Bukhli.”
  2.  Perbedaan pada i’rob dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya. Misalnya pada firman Allah:

    رَبَّنَا بَاعِدْ بَيْنَ أَسْفَارِنَا
    Artinya:
    “Ya tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami.” (QS.Saba’[34]:19)

    Kata yang di terjemahkan menjadi jauhkanlah diatas adalah ba’id karena ststusnya adalah fiil ‘amr, boleh juga dibaca ba’ada yang berarti kedudukannya menjadi fiil madhi, sehingga artinya telah jauh.
  3. Perbedaan pada perubahan huruf antara perubahan i’rob dan bentuk tulisannya, sementara maknanya berubah. Misalnya pada firman Allah SWT.

    وَانظُرْ إِلَى العِظَامِ كَيْفَ نُنشِزُهَا
    Artinya:
    “Dan lihatlah pada tulang belulang keledai itu, kemudian kami menyusunnya kembali.”(QS.Al-Baqarah[2]:259)

    Kata nunsyizuha yang artinya kami meenyusun kembali, yang ditulis dengan menggunakan huruf Zay(ز) diganti dengan huruf Ra(ر) sehingga berbunya nunsyiruha, yang berarti “kami hidupkan kembali.”
  4. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya, tetapi maknanya tidak berubah. Misalnya pada firman allah:

    وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
    Artinya:
    “dan gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkannya.” (QS.Al-Qori’ah[101]:5)
    Beberapa qira’at mengganti kata ka “ al-‘ihin” dengan ka “ash-shufi” sehingga yng mulanya bermakna “bulu-bulu” berubah menjadi “bulu-bulu domba”. Perubahan seperti ini berdasarkan ijma’ ulama tidak dibenarkan, karena bertentangan dengan mushaf ‘utsmani.
  5.  Perbedaan pada mendahulukan dan mengakhirkannya. Misalnya pada firman Allah:

    وَجَاءتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ
    Artinya:
    "Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.”(QS.Qaf[50]:19)

    Menurut suatu riwayat, Abu bakar pernah menjadi wa ja’at sakrat Al-haqq bi al-maut. Abu bakar menggeser kata “al-maut” kebelakang, sementara kata “al-haqq” dimajukan ketempat yang digeser ke belakang. Setelah mengalami pergeseran ini , bila di terjemahkan ke dalam bahasa indonesia, kalimat itu menjadi “dan datanglah sakarat yang benar-benar dengan kematian.”
    Qira’at semacam ini , juga tidak dipakai, karena jelas menyalahi ketentuan yang berlaku.
  6. Perbedaan dengan menamdah dan mengurangi huruf, sseperti pada firman allah:
    جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَار
    Artinya:
    “surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya (QS.Al-Baqarah[2]:25)
    Kata min pada ayat ini dibuang dan pada ayat serupayang tanpa min justru ditambah.
Sebab-Sebab Perbedaan Qira’at
Diantara sebab-sabab munculnya beberapa perbedaan qira’at antara lain:

1. Perbedaan qira’at Nabi.
Artinya dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya,Nabi memakai beberapa versi qira’at. misalnya, Nabi pernah membaca surat As-Sajdah[32]:17 sebagai berikut.

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيْ لَهُم مِّن قُرَّاتٍ أَعْيُنٍ
Qira’ah versi ‘Utsmani adalah:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ ما أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ

2. Pengakuan dari Nabi kepada beberapa qira’at yang berlaku dikalangan kaum muslimin waktu itu. Hal ini menyangkut dialek diantara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam Al-Qur’an.contohnya:

  1. Ketika seorang hudzali membaca dihadapan Rasul ‘atta hin (عتّى حِين) padahal ia menghendaki hatta hin (حتّى حِين), Rasul pun membolehkannyasebab memang begitulah orang hudzali mengucapkan dan menggunakannya.
  2. Ketika orang Asadi membaca salah satu ayat dalam surat ali’ imran dihadapan Rasulullah tiswaddu wujuh (تِسودُّ) huruf “ta” pada kata “tiswaddu” dikasrohkan.dan alam i’had ilaikum (الم اِعهد اليكم) huruf “hamzah” pada kata “i’had” (dikasrahkan), Rasul pun membolehkannya, sebab memang demikianlah orang Asadi menggunakan dan mengucapkannya.
  3.  Ketika seorang Tamim mengucapkan hamzah pada suatu kata yang tidak diucapkan orang Quraisy, Rasul pun membolehkannya, sebab demikianlah orang Tamim menggunakan dan mengucapkannya.
  4.  Ketika seorang qari’ membaca wa idza qila lahum (واِذا قيل لهم) dan ghidha al-ma’u (غِيض الماء) dengan menggabungkan dhamah dan kasrah, Rasul pun membolehkannya, sebab demikianlah dia menggunakan dan mengucapkannya.