Pengelolaan Kurikulum

A. Pengertian Kurikulum

Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata curir dan curere pada waktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan.
Pengertian kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik, merupakan konsep kurikulum yang sampai saat ini banyak mewarnai teori – teori dan praktik pendidikan ( Saylor Alexander & Lewis, 1981).

Pengertian kurikulum menurut Taylor dalam Nanang Fatah dan Aceng Muhtaram (1991) yaitu :
  1. Perangkat bahan ajar 
  2. Rumusan hasil belajar yang dikehendaki 
  3. Penyediaan kesempatan belajar
  4. Kewajiban peserta didik
Berdasarkan pengertian diatas maka ada 2 aspek penting yang harus dipahami :
  1. Isi kurikulum
  2. Proses kurikulum
Unsur-unsur pokok yang terkandung dalam kurikulum meliputi tujuan, materi, strategi kegiatan pembelajaran, dan sistem evaluasi.

Kurikulum dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

B. Kegiatan-kegiatan pengelolaan kurikulum

1. Kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru
  1. Pembagian tugas membelajarkan 
  2. Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakurikuler

2. Kegiatan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran
  1. Penyusunan jadwal pelajaran 
  2. Penysunan program pelajaran 
  3. Pengisian daftar kemajuan kelas 
  4. Kegiatan mengelola kelas
  5. Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar 
  6. Laporan hasil belajar Kegiatan bimbingan dan penyuluhan
C. Bentuk pengorganisasian kurikulum

Ada empat bentuk pengorganiasasian kurikulum yang bisa diterapkan di lembaga pendidikan yaitu :

1. Separated subject curriculum

Kurikulum ini menyjikan segala bahan pelajaran dalam bernagai macam mata pelajaran yang tepisah-pisah satu sama lain dan juga antara satu kelas dengan kelas yang lain.

2. Correlated curriculum

Bentuk ini menghendaki agar mata pelajaran satu sama lain ada hubungan walaupun mungkin batas-batas yang satu ddengan yang lain masih dipertahankan. Korelasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara :
  1. Antara dua mata pelajaran diadakan hubungan secara incidental.
  2. Terdapat hubungan yang lebih erat apabila suatu pokok bahasan tertentu dibahas dalam berbagai mata pelajaran.
  3.  Mempersatukan beberapa mata pelajaran dengan menghilangkan batas masing-masing

3. Integrated curriculum

Integrated curriculum meniadakan batas-batas antara berbagai mata pelajaran dan menyajikan pelajaran dalam bentuk unit atau keseluruhan. Semua ini dimaksudkan agar anak dapat dibentuk menjadi pribadu yang integrated yakni manusia yang selaras dengan lingjungan hidupnya.

4. Core curriculum

Pada prinsipnya core curriculum memberikan pelajaran yang umum.

D. Peran dan Fungsi Kurikulum

Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peran kreatif serta peran kritis dan evaluatif.

1. Peran Konsevatif

Peran Konservatif Kurikulum adalah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Dokaotkan dengan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing menggerogoti budaya local, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti ynag sangat penting. Melalui peran konservatif, kurikulum berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yang dapat merusak nilai – nilai luhur masyarakat, sehingga identitas masyarakat akan tetap terpelihara dengan baik.

2. Peran Kreatif

Dalam peran kreatif, kurikulum harus mengandung hal – hal baru sehingga dapat membantu siswa untuk dapat mengembangkan setiap potensi yang dimilikinya agar dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat yang senantiasa bergerak maju secara dinamis.

3. Peran Kritis dan Evaluatif

Kurikum berperan untuk menyeleksi nilai dan budaya mana yang perlu dipertahankan, dan nilai atau budaya baru yang mana yang harus dimiliki anak didik. Daam rangka ini peran peran kritis dan evaluatif kurikulum diperlukan. Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang dianggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik.

Sesuai dengan peran yang harus dimainkan kurikulum sebagai alat dan pedoman pendidikan, maka isi krikulum harus berjalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Menurut McNeil (1990) isi kurikulum memiliki empat fungsi, yaitu :

1) Fungsi Pendidikan Umum

Fungsi Pendidikan Umum yaitu fungsi kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik agar mereka menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab sebagai warga negara yang baik.

2) Suplementasi

Setiap peserta didik memiliki perbedaan, baik perbedaan minat, perbedaan kemampuan, maupun perbedaan bakat. Dengan demikian setiap anak memiliki kesempatan untuk menambah kemampuan dan wawasan yang lebih baik sesuai dangan minat dan bakatnya.

3) Eksplorasi

Fungsi Eksplorasi memiliki makna bahwa kurikulum harus dapat menemukan dan mengembangkan bakat minat masing – masing siswa. Namun proses eksplorasi minat dan bakat siswa harus ada pemaksaan dari pihak luar, misalnya para orangtua yang sebenarnya anak tidak memiliki bakat dan minat terhadap bidang tertentu mereka dipaksa untuk memilihnya hanya karena alasan – alasan tertentu yang sebenarnya tidak rasional.

4) Keahlian

Kurikulum berfungsi untuk mengembangkan kemampuan anak sesuai ddengan keahlian yang didasrkan atas minat dan bakat siswa. Dengan demikian, kurikulum harus memberikan pilihan berbagai bidang keahlian misalnya perdagangan, pertanian, industri atau disiplin akademik.

Bagi guru kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah kurikulum berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah.Bagi pengawas, kurikulum akan berfungsi segai panduan dan melaksanakan supervisi. Sedangkan bagi siswa itu sendiri kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.

Alexander Inglis (dalam Hamalik, 1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
  1. Fungsi integrasi, yaitu kurikulum harus dapat mengembangkan pribadi siswa secara utuh. 
  2. Fungsi diferensiasi, yaitu kurikulum harus dapat melayani siswa dengan segala keunikannya. 
  3. Fungsi persiapan, yaitu kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk kehidupan di masyarakat.
  4. Fungsi pemilihan, yaitu kurikulum yang dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai bakat dan minatnya. 
  5. Fungsi Diagnostik, yaitu fungsi untuk mengenal berbagai kelemahan dan kekuatan siswa
  6. Fungsi penyesuaian, yaitu kurikulum harus dapat mengantarkan siswa agar mampu menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial masyarakat.

E. Landasan Pengembangan Kurikulum

1. Landasan Filosofis

Filsafat berasal dari Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “sophia”. Philos artinya cinta yang mendalam dan sophia artinya kearifan atau kebijaksanaan. Filsafat secara harfiyah diartikan sebagai cinta yang mendalam akan kearifan. Secara popular Filsafat sering diartikan sebagai pandangan hidup suatu masyarakat atau pendirian hidup bagi individu.

Ada empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum. Pertama, filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai debgan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, filsafat dapat menentukan srategi atau cara penyampaian tujuan. Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan.

a. Filsafat dan Tujuan Pendidikan

Hummel (1977) mengemukakan ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan tujuan pendidikan :
  1. Autonomy, artinya memberi kesadaran, pengetahuan dan kemampuan yang primakepada setiap individu dan kelompok untuk dapat mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. 
  2. Equity, artinya pendidikan harus dapat memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kebudayaan dan ekonomi. 
  3. Survival, artinya pendidikan bukan saja harus menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi akan tetapi harus memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antar manusia.

Menurut Bloom (1965), tujuan pendidikan dapat digolongkan kedalam tiga klasifikasi atau tiga domain (bidang), yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotor. Domain kognitif berhubungan dengan pengembangan intelektual atau kecerdasan. Bidang afektif berhubungan dengan pengembangan sikap dan bidang psikomotor berhubungan dengan keterampilan.

b. Filsafat sebagai Proses Berfikir

Filsafat sering diartikan sebagai cara berfikir. Sidi Gazalba, mengemukakan ciri-ciri berfikir filosofis sebagai berfikir yang radikal, sistematis dan universal. Befikir radikal (radikal thinking), yaitu berfikir sampai ke akar-akarnya sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berfikir sistematis adalah berfikir logis yang bergerak selangkah dengan penuh kesadarandenagn urutan yang bertanggungjawab dan saling berhubungan yang teratur. Berfikir universal, artinya tidak berfikir secara khusus melainkan mencakup keseluruhan secara sistematis dan logis sampai ke akar-akarnya. Orang yang berfilsafat yaitu orang yang berfikir secara mendalam tentang masalah secara menyeluruh sebagai upaya mencari dan menemukan kebenaran.

Menurut Nasution (1989), ada empat aliran utama dalam filsafat, yaitu idealisme, relisme, pragmatisme,dan eksistensialisme. Idealisme, memandang bahwa kebenaran itu datang dari Yang Maha Kuasa.Manusia tidak perlu meragukan kebenarannya selain harus mematuhinya. Aliran Realisme memandang bahwa manusia pada dasarnya dapat menemukan dan mengenal realitas sebagai hukum-hukum universal, hanya saja dalam menemukannya itu dibatasi oleh kelambanan sesuai dengan kemampuannya. Aliran progmatisme berpendapat bahwa kenyatan itu pada hakikatnya berada pada hubungan sosial antara manusia dengan manusia lainnya. Aliran Eksistensialis mengakui bahwa sebagai individu setiap manusia memiliki kelemahan -kelemahan.

2. Landasan Psikologis

a. Psikologi Perkembangan Anak

Untuk memahami perkembangan siswa, Piaget mengemukakan teori perkembangan kognitif (intelektual). Kemampuan kognitif merupakan suatu yang fundamental yang mengarahkaan dan membimbing perilaku anak. Tahapan perkembangannya yaitu:
  1. Sensorimotor,yang berkembang dari mulai lahir sampai 2 tahun. 
  2. Praoperasional, mulai dari 2 sampai 7 tahun. 
  3. Operasional konkret, 7 sampai 11 tahunOperasional formal dimulai dari 11 sampai 14 tahun ke atas.

b. Psikologi Belajar

Menurut aliran Behavioristik, Belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon. Karena itu teori ini dinamakan teori Stimulus – Respons.


3. Landasan Sosiologis-Teknologis

a. Kekuatan Sosial yang Dapat Mempengaruhi Kurikulum.
b. Kemajuam IPTEK sebagai Bahan Pertimbangan Penyusunan Kurikulum.
  1. Perubahan Pola Hidup 
  2. Perubahan Kehidupan Sosial Politik

Referensi:
  • Affifudin, Sobry Sutikno. 2008. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Prospect .
  • Sanjaya Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
  • Sukmadinata,nana syaodih. 2010. Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Anda baru saja membaca artikel berkategori Makalah dengan judul Pengelolaan Kurikulum.By : Belajar dan Pembelajaran
Ditulis oleh: Dede Yahya