Makalah Titik Temu Filsafat dan Sains

Begitu dekat hubungan antara sains dan filsafat sehingga beberapa ilmu pengetahuan tertentu, khususnya cabang-cabang yang lebih umum, seperti matematika, fisika, kimia, biologi dan psikologi sangat diperlukan oleh mahasiswa filsafat. Sesungguhnya perluasan yang terjadi pada sains ini membuat lebih dan lebih susah bagi para filsuf untuk menguasainya. Hal ini mendatangkan sebuah sifat kerendahan hati yang sehat. Berbagai system yang sudah jadi dan dibangun (dikonstruksi) tanpa mempertimbangkan hasil observasi dan eksperimen senantiasa kurang dihormati. Filsafat saat ini cenderung langsung menganalisa secara kritis konsep-konsep dan mempelajari berbagai makna dan nilai. Arti filsafat tidak lebih sebagai studi logis dan humanistis atas berbagai hal. Bagaimanapun juga filsuf yang ideal mesti menguasai sebanyak-banyaknya sains khusus.

FILSAFAT DAN SAINS

Filsafat didefinisikan sebagai "kebijaksanaan" . Kata filsafat atau philosophy, berasal dari bahasa Yunani yaitu Sophia yang berarti kebijaksanaan dan Philein yang berarti mencintai. Jadi, filsafat adalah semata-mata mencintai kebijaksanaan.

Dari sekian pembagian ilmu dan pembahasan yang membicarakan filsafat, agaknya ada satu hal yang mendapat porsi lebih utama dari yang lainnya, dan yang satu hal ini dinamai dengan berbagai macam nama yang maksudnya tetap sama yaitu , filsafat tinggi (’ulya), filsafat utama (aula), ilmu tertinggi ( a’la), ilmu universal (kulli), teologi (Ilahiyah), dan filsafat metafisika.

Ketika perhatian para filsuf kuno tentang filsafat ini lebih tercurah pada masalah filsafat tinggi, maka akhirnya kita bisa melihat arti filsafat menurut para filsuf kuno yang terbagi menjadi dua, pertama adalah arti yang umum ; yaitu berbagai ilmu pengetahuan yang rasional dan yang kedua adalah arti khusus, yaitu : ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan (Ilahiyah) atau filsafat tinggi yang nota benenya adalah pecahan dari filsafat teoritis. Sedangkan menurut terminologi muslimin, filsafat adalah nama bagi seluruh ilmu rasional dan bukan nama dari satu ilmu tertentu.

Objek materi filsafat
  1. Masalah Tuhan, yang sama sekali diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
  2. Masalah alam, yang belum atau tidak bisa dijawab dengan ilmu pengetahuan biasa.
  3. Masalah manusia
Objek formal filsafat
Mencari keterangan sedalam-dalamnya sampai ke akar persoalan
.
Sikap manusia terhadap filsafat
  1. Terbayang sesuatu yang ruwet dan sulit
  2. Perbuatan yang tidak berguna
  3. Filsafat berbahaya, tidak boleh dan dosa.
  4. Filsafat adalah belajar,tempat melatih akal untuk berpikir.
Kegunaan Filsafat
  1. Pedoman dalam kenyataan kehidupan sehari-hari.
  2. Melalui filsafat (salah satunya) tingkah lakunya akan lebih bernilai
  3. Kehidupan dan penghidupan ke arah yang negatif akan dapat dihindari dan dikurangi.
Definisi Sains

Kata sains berasal dari bahasa latin ” scientia ” yang berarti pengetahuan.memandang dan mengamati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai suatu objek. Berdasarkan Webster New Collegiate Dictionary definisi dari sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum – hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sains berarti(1) ilmu teratur (sistematis) yang dapat diuji kebenarannya; (2) ilmu yang berdasarkan kebenaran atau kenyataan semata (fisika, kimia dan biologi). Sains pada prinsipnya merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari dan dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survey, studi kasus dan lain-lain.

Istilah common sense sering dianalogikan dengan good sense, karena seseorang dapat menerima dengan baik. Jadi, kaitannya dengan sains, sains beranjak dari common sense, dari peristiwa sehari-hari yang dialami manusia namun terus dilanjutkan dengan suatu pemikiran yang logis dan teruji.

Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana (simple possible terms). Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam . Bahasa yang lebih sederhana, sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu.

Sains dengan definisi diatas seringkali disebut dengan sains murni, untuk membedakannya dengan sains terapan, yang merupakan aplikasi sains yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. ilmu sains biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu :
  1. Natural sains atau Ilmu pengetahuan Alam
  2. Sosial sains atau ilmu pengetahuan sosial
Berikut ini adalah contoh dari begitu banyak pembagian bidang – bidang sains, khususnya natural sains atau IPA:
  1. BIOLOGI (Biology) : Anatomi,biofisika,genetika, Ekologi, Fisiologi, taksonomi, virulogi, zoologi, dll
  2. KIMIA (Chemistry) : Kimia Analitik, Elektrokimia, Kimia organik, kimia anorganik, ilmu material, kimia polimer, thermokimia
  3. Fisika (Physics) : Astronomi, fisika nuklir, kinetika, dinamika, fisika material, optik, mekanika quantum, thermodinamika
  4. Ilmu Bumi (Earth Science) : Ilmu lingkungan, geodesi, geologi, hydrologi, meteorologi, paleontologi, oceanografi.
Kerja Sains
  1. Definisi dan gambaran umum
  2. Analisis
  3. Klarifikasi
Penjelasan-penjelasan tentang fakta-fakta
  1. Memastikan sebab musabab (invariable antecedents)
  2. Merumuskan berbagai kesamaan perilaku (uniformities of behavior)
Karakteristik Sains, Sejarah membuktikan bahwa dengan metode sains telah membawa manusia pada kemajuan dalam pengetahuan. Randall dan Buchker mengemukakan beberapa ciri umum sains:
  1. Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama,artinya hasil sains yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan hal yang baru, dan tidak memonopoli. Setiap orang dapat memanfaatkan hasil penemuan orang lain.
  2. Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyeidikinya adalah manusia.
  3. Sains bersifat objektif ,artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung kepada siapa yang menggunakan, tidak tekrgantung pada pemahaman secara pribadi.
Ralph Ross dan Ernest Van den Haag mengemukakan ciri-ciri sains, yaitu: 1) bersifat rasional (hasil dari proses berpikir dengan menggunakan rasio atau akal), 2) bersifat empiris (pengalaman oleh panca indra), 3) bersifat umum (hasil sains bisa digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali), 4) bersifat akumulatif (hasil sains dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian berikutnya)

Ruang lingkup sains

Konsepsi siswa tentang sains sangat dipengaruhi oleh pandangan guru tentang sains. Secara sederhana sains dapat berarti sebagai tubuh pengetahuan (body of knowledge) yang muncul dari pengelompokkan secara sistematis dari berbagai penemuan ilmiah sejak zaman dahulu, atau biasa disebut sains sebagai produk. Produk yang dimaksud adalah fakta-fakta, prinsip-prinsip, model-model, hukum-hukum alam, dan berbagai teori yang membentuk semesta pengetahuan ilmiah.

Sains juga bisa berarti suatu metode khusus untuk memecahkan masalah, atau biasa disebut sains sebagai proses. Sains sebagai proses ini sudah terbukti ampuh memecahkan masalah ilmiah yang juga membuat sains terus berkembang dan merevisi berbagai pengetahuan yang sudah ada.

Selain itu sains juga bisa berarti suatu penemuan baru atau hal baru yang dapat digunakan setelah kita menyelesaikan permasalahan teknisnya, yang biasa disebut sebagai teknologi. Teknologi merupakan suatu sifat nyata dari aplikasi sains, suatu konsekuensi logis dari sains yang mempunyai kekuatan untuk melakukan sesuatu. Sehingga biasanya salah satu definisi popular tentang sains termasuk juga teknologi di dalamnya.

Sejarah perkembangan sains menunjukkan bahwa sains berasal dari penggabungan dua tradisi tua, yaitu tradisi pemikiran filsafat yang dimulai oleh bangsa Yunani kuno serta tradisi keahlian atau keterampilan tangan yang berkembang di awal peradaban manusia yang telah ada jauh sebelum tradisi pertama lahir. Filsafat memberikan sumbangan berbagai konsep dan ide terhadap sains sedangkan keahlian tangan memberinya berbagai alat untuk pengamatan alam. Sains modern bisa lahir dari perumusan metode ilmiah yang disumbangkan Rene Descartes yang menyodorkan logika rasional dan deduksi serta oleh Francis Bacon yang menekankan pentingnya eksperimen dan observasi.

Sumbangan konsep dan ide dalam sains terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Contoh yang paling terkenal adalah teori relativitas dari Albert Einstein. Teori relativitas umum ini misalnya telah mengubah pandangan orang secara drastis akan sifat kepastian waktu serta sifat massa yang dianggap tetap. Disamping kekuatan konsep dan ide, melalui keampuhan alat dan telitinya pengamatan, kegiatan sains juga terbukti menjadi pemicu berbagai revolusi ilmiah. Pengamatan bintang-bintang oleh Edwin Hubble melalui teleskop di Gunung Wilson pada tahun 1920-an misalnya, membawa beberapa implikasi seperti adanya galaksi lain selain Bimasakti dan adanya penciptaan alam semesta secara ilmiah dengan makin populernya teori ledakan besar (Big Bang).

Teori-teori dalam sains terus berkembang dengan pesatnya. Suatu teori adalah suatu konstruksi yang biasanya dibuat secara logis dan matematis yang bertujuan untuk menjelaskan fakta ilmiah tentang alam sebagaimana adanya. Suatu teori yang baik harus mempunyai syarat lain selain dapat menjelaskan, yaitu dapat memberikan adanya prediksi; contohnya dengan pertanyaan: Bila saya melakukan hal ini apa yang terjadi? sebagai contoh, teori kuno yang menyatakan alam ini terdiri dari empat unsur yaitu tanah, udara, api dan air memenuhi syarat dapat menjelaskan komposisi alam, namun gagal bila mencoba memperkirakan dari mana semua unsur itu berasal dan bagaimana interaksinya dalam mahluk hidup.

Namun terkadang teori juga tidak bisa berbuat banyak karena konsekuensinya terlalu rumit bahkan untuk sekedar diramalkan. Untuk mengatasi hal ini para ilmuwan mengembangkan apa yang disebut dengan model. Model merupakan penyederhanaan dari suatu teori yang menjelaskan alam semesta misalnya secara lebih mudah akan satu aspek tertentu, namun menghilangkan aspek lainnya. Perkembangan teori atom memberikan kita contoh nyata tentang tentatifnya suatu teori dalam ilmu pengetahuan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini disebabkan karena teori-teori atau hukum-hukum alam dalam sains adalah suatu generalisasi atau ekstrapolasi dari pengamatan, dan bukan pengamatan itu sendiri. Sedangkan pengamatan itu sendiri selalu tidak akurat atau tidak menjelaskan semua aspek yang seharusnya diamati. Apa yang dijelaskan dengan model atom Thomson contohnya, hanya berdasar pengamatan dari percobaan sinar katoda saja; model ini direvisi oleh Rutherford setelah dia membuktikan keberadaan inti. Sehingga unsur ketidakpastian dan kerelatifan menjadi hal yang penting dalam ilmu pengetahuan modern yang membuatnya terus berkembang.

Kelebihan sains yaitu:
  1. Sains telah memberikan banyak sumbangannya bagi umat manusia, misalnya dalam perkembangan sains dan teknologi kedokteran, sains dan teknologi komunikasi dan informasi.
  2. Dengan sains dan teknologi memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat, efektif dan efisien karena sains dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.
Kelemahan sains yaitu:
  1. Sains bersifat objektif, menyampingkan penilaian yang bersifat subjektif. Sains menyampingkan tujuan hidup, sehingga dengan demikian sains dan teknologi tidak bisa dijadikan pembimbing bagi manusia dalam menjalani hidup ini.
  2. Sains membutuhkan pendamping dalam operasinya. Menurut Albert Einstein, "Sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains adalah buta (Science without religion is lame, religion without sains is blind)".
Filsafat dan sains

Pada zaman ini, di barat filsafat khususnya metafisika dianggap bukanlah sebagai sains. Sebagaimana yang dikatakan August Comte, bahwa filsafat dalam bentuk metafisika adalah fase kedua dalam perkembangan manusia, setelah agama yang disebut sebagai fase pertamanya.Adapun yang disebut dengan fase ketiga atau fase yang paling modern dalam perkembangan manusia adalah sains yang bersifat positivistik ( yang dapat dilihat oleh indra lahir manusia ).

Dan karena sains merupakan perkembangan terakhir fase ketiga maka manusia modern harus meninggalkan fase-fase sebelumnya yang dianggap sudah kuno seperti fase agama, teologis dan metafisika filosofis jika ingin tetap bisa dikatakan sebagai manusia modern.

Berbeda dengan apa yang terjadi dibarat, dalam tradisi ilmiah Islam filsafat tetap dipertahankan hingga kini dalam posisi ilmiahnya yang tinggi sebagai sumber atau basis bagi ilmu-ilmu umum yang biasa kita sebut sebagai sains, yakni cabang-cabang ilmu yang berkaitan dengan dunia empiris, dunia fisik. Dalam tradisi Islam, Filsafat adalah induk dari semua ilmu yang menelaah ilmu rasional (aqliyyah) seperti metafisika, fisika dan matematika. Adapun sains dalam tradisi ilmiah Islam adalah termasuk kedalam kelompok ilmu rasional dibawah ilmu-ilmu fisik, sehingga mau tidak mau sains harus tetap menginduk kepada filsafat, khususnya kepada metafisika filsafat. Alih-alih sains dikatakan terlepas dari filsafat sebagaimana yang disinyalir oleh August Comte, filsafat justru dipandang sebagai induk dari sains.

Selain sebagai basis metafisik ilmu (sains), filsafat juga bisa dijadikan sebagai basis moral bagi ilmu dengan alasan bahwa tujuan menuntut ilmu dari sudut aksiologis adalah untuk memperoleh kebahagiaan bagi siapa saja yang menuntutnya.

Filsafat, khususnya Metafisika adalah ilmu yang mempelajari sebab pertama atau Tuhan, yang menempati derajat tertinggi dari objek ilmu. Oleh karena itu sudah semestinyalah jika metafisika dijadikan basis etis peneletian ilmiah karena ilmu ini akan memberikan kebahagiaan kepada siapa saja yang mengkajinya..Dikutip dari :http://parapemikir.com/

Perbedaan filsafat dan sains

Sains atau science dalam bahasa inggris, berasal dari bahasa latin scientia yang berarti “mengetahui” merujuk ke metodologi sistematik yang bertujuan menggali informasi akurat mengenai fakta dan berusaha memodelkannya. Dari model tersebut manusia berusaha memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Tentu saja prediksi yang dibuat harus dapat diandalkan, kuantitatif, dan konkrit.

Perbedaan yang paling mendasar antara filsafat dan sains adalah cara mengambil kesimpulan. Filsafat berusaha mencari kebenaran atas suatu hipotesa hanya dengan kekuatan berfikir. Sains bertumpu pada data-data yang telah diambil dan diverifikasi. Oleh karena itu keluaran yang dihasilkan juga berbeda tipe. Teori-teori keluaran filsafat bersifat Kualitatif dan Subjektif. Sedangkan sains menghasilkan output yang Kuantitatif dan Objektif.

Terdapat perbedaan yang hakiki antara filsafat dan sains, diantaranya:
  1. Sains bersifat analisis dan hanya menggarap salah satu pengetahuan sebagai objek formalnya. Filsafat bersifat synopsis, artinya melihat segala sesuatu dengan menekankan secara keseluruhan, karena keseluruhan mempunyai sifat tersendiri yang tidak ada pada bagian-bagiannya.
  2. Sains bersifat deskriptif tentang objeknya agar dapat menentukan fakta-fakta, netral dalam arti tidak memihak pada etik tertentu.Filsafat tidak hanya menggambarkan sesuatu melainkan membantu manusia untuk mengambil putusan-putusan tentang tujuan, nilai-nilai dan tentang apa-apa yang harus diperbuat manusia. Filsafat tidak netral karena, faktor subjektif memegang peranan yang penting dalam filsafat.
  3. Sains mengawali kerjanya dengan bertolak dan suatu asumsi yang tidak perlu diuji, sudah diakui dan diyakini kebenarannya. Filsafat bisa merenungkan kembali asumsi-asumsi yang telah ada untuk diuji ulang kebenarannya. Jadi, filsafat dapat meragukan setiap asumsi yang ada, dimana oleh sains telah diakui kebenarannya.
  4. Sains menggunakan eksperimentasi terkontrol sebagai metode yang khas. Verfikasi terhadap teori dilakukan dengan cara menguji dalam praktek berdasarkan metode sains yang empiris.Selain menggunakan teori, filsafat dapat juga menggunakan hasil sains, dilakukan dengan menggunakan akal pikiran yang didasarkan pada pengalaman insani.
Jadi, sains berhubungan dan mempersoalkan fakta-fakta yang faktual, diperoleh dengan menggunakan eksperimen, observasi dan verifikasi, hanya berhubungan dengan sebagian aspek kehidupan di dunia ini. Sedangkan filsafat mencoba menghubungkan dengan keseluruhan pengalaman, untuk memperoleh suatu pandangan yang lebih komprehensif dan bermakna tentang sesuatu.

Secara umum manusia berpikir induktif, yaitu dari hal khusus ke umum, dan relatif membuat asumsi-asumsi yang mendukung hipotesanya. Data bersifat kebalikannya, yaitu membatasi ruang cakupan teori dan mengerucutkan hipotesa sehingga menjadi teorema yang khusus. Karenanya filsafat juga menghasilkan teori-teori yang Umum dan Eksperimental, sedangkan keluaran sains bersifat Spesial dan Empiris.

Walaupun berbeda, filsafat dan sains tetap memiliki sifat-sifat ilmu yaitu temporal, sistematis, rasional, kritis, dan logis. Temporal artinya bersifat sementara, teori apapun di dunia ini jika ada teori pengganti yang lebih baik atau lebih global akan ditinggalkan. Sistematis, rasional, kritis, dan logis adalah cara manusia berpikir. Keempat sifat itu adalah setting default otak manusia. Bila satu saja ditinggalkan, teori yang dihasilkan tidak akan bertahan.

Bagaimanapun juga ada beberapa hal yang tidak bisa dicover metode sains secara indah. Disinilah metode filsafat berperan. Ilmu sosial dan psikologi contohnya. Data yang diambil seringkali terlalu acak untuk dapat dianalisis dengan metode ilmiah. Maka dari itu intuisi dan pemikiran manusia yang notabene merupakan metode filsafat banyak berperan disana.

Titik Temu Filsafat dan Sains
  1. Filsafat dan sains keduanya menggunakan metode berpikir reflektif dalam menghadapi fakta dunia.
  2. Filsafat dan sains keduanya menunjukan sikap kritis dan terbuka dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah terhadap kebenaran.
  3. Filsafat dan sains keduanya tertarik terhadap pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis.
  4. Sains membantu filsafat dalam mengembangkan sejumlah bahan deskriptif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat.
  5. Sains mengoreksi filsafat dengan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah.
  6. Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong, yang menjadikan beraneka macam sains yang berbada serta menyusun bahan tersebut ke dalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu.

BAB III
SIMPULAN

Objek filsafat adalah mengambil alih berbagai hasil sains, menambahkan pada hasil-hasil sains yang diambil alih tersebut dengan berbagai hasil pengalaman etis dan religius umat manusia kemudian merefleksikannya secara keseluruhan. Harapannya, dengan pengertian seperti ini kita bisa mencari beberapa kesimpulan umum seperti sifat-sifat dasar atau hakikat alam semesta, kedudukan dan harapan-harapan kita di alam semesta.

Zaman ini sains lebih bersufat kuantitatif daripada kualitatif. Sifat ini mengungkapkan hubungan tentang intensitas (keterarahan) dua fenomena. Sebagai contoh, intensitas pada arus listrik dan pada penerangan sebuah lampu pijar. Untuk mengimbangi pada ketidakmampuhannya dalam menjawab pertanyaan "bagaimana" yaitu dengan menampilkan kekayaannya akan data seperti melalui pertanyaan "berapa banyak". 
Riset monograf dan textbook mirip dengan menekankan pada hubungan kuantitatif yang bisa diobservasi dan jarang pergi jauh ke dalam daerah pedalaman spekulatif dimana pertanyaan "bagaimana" harus mendahului "berapa banyak". Usaha mempelajari hubungan kuantitatif terlalu sering meninggalkan bukan hanya instruktur tetapi juga waktu luang pelajar untuk lebih banyak melakukan penyelidikan atau spekulasi seperti terhadap mekanisme hubungan kuantutatif itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Irawan. 2008. Pengantar Singkat Ilmu Filsafat. Bandung: Intelekia Pratama.
  • Prasetya. 2000. Filsafat Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.
  • Sadullah, Uyoh. 2007. Pengantar filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Silahkan perbaiki jika ada kesalahan, saya harap Anda membaca buku referensi dan tidak menjadikan halaman ini sebagai referensi karya ilmiah Anda. Halaman ini hanya sekedar pengetahuan.
Anda baru saja membaca artikel berkategori Makalah dengan judul Makalah Titik Temu Filsafat dan Sains.By : Belajar dan Pembelajaran
Ditulis oleh: Dede Yahya