Belajar dan Pembelajaran

3 Gambar Animasi Gif Lucu

Mau tahu bagaimana liat kucing lagi baca buku dengan serius? lihat saja gambar animasi gif dibawah ini. Terlihat dengan seriunya membuka halaman buku dengan judul Military Strategy seperti mau perang.

gambar animasi kucing
Ini dia makan yang mengerikan, mungkin tidak untuk sebagian orang tapi untuk saya sendiri tidak terbiasa menyantap hewan yang lagi hidup. Anda tertarik dengan makanan ini? Ha, ha saya mau muntah lihatnya.
Kucing ini lagi ngapain ya? kayaknya malu-malu kucing.Ayo lagi ngintip apaan?

Konsep TIK Komunikasi dan Tekhnologi Informasi Pendidikan

Konsep TIK Komunikasi dan Tekhnologi Informasi Pendidikan

Secara sederhana teknologi informasi dapat dikatakan sebagai ilmu yang diperlukan untuk mengelola informasi agar informasi tersebut dapat dicari dengan mudah dan akurat. Isi dari ilmu tersebut dapat berupa teknik-teknik dan prosedur untuk menyimpan informasi secara efisien dan efektif. Informasi dapat dikatakan sebagai data yang telah di olah. Informasi tersebut dapat disimpan dalam bentuk tulisan, suara, gambar, gambar mati ataupun gambar hidup. Sehingga informasi akhirnya dapat berupa ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Bila informasi tersebut volumenya kecil, tentunya tidak perlu teknik-teknik atau prosedur yang rumit untuk menyimpannya. 

Namun bila informasi tersebut dalam volume yang besar, diperlukan teknik dan prosedur tertentu untuk menyimpannya agar mudah mencari informasi yang tersimpan. Komputer mempunyai kapasitas untuk informasi dalam volume besar. Pada mulanya komputer hanya mampu menyimpan teks dan grafik sederhana saja. Namun dewasa ni komputer telah mampu menyimpan informasi dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk audio, visual, dan audio visual.

Oleh sebab itu komunikasi dan teknologi komunikasi sangatlah penting pada saat ini, oleh karena itu pada kesempatan ini pemakalah akan membahas tentang “konsep komunikasi dan teknologi informasi penddikan”. Diharapkan makalah ini pemateri dapat memahamkan mahasiswa akan pentingnya komunikasi dan tekhnologi pendidikan bagi .


A. PENGERTIAN KOMUNIKASI.

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.

Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia. Karena itu merujuk pada pengertian Ruben dan Steward(1998:16) mengenai komunikasi manusia yaitu:

Human communication is the process through which individuals –in relationships, group, organizations and societies—respond to and create messages to adapt to the environment and one another. Bahwa komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain.

B. PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI.

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

C. KONSEP KOMUNIKASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI PENDIDIKAN

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
  1. Dari pelatihan ke penampilan,
  2. Dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja,
  3. Dari kertas ke “on line” atau saluran,
  4. Fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja,
  5. Dari waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.

“Cyber Teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
  1. E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
  2. Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
  3. Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning Syatem), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb.

Satu bentuk produk TIK adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan 3 dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Majalah Asiaweek terbitan 20-27 4 Agustus 1999 telah menurunkan tulisan-tulisan dalam tema "Asia in the New Millenium" yang memberikan gambaran berbagai kecenderungan perkembangan yang akan terjadi di Asia dalam berbagai aspek seperti ekonomi, politik, agama, sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya pengaruh revolusi internet dalam berbagai dimensi kehidupan. Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul "Rebooting:The Mind Starts at School".

Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai "cyber classroom" atau "ruang kelas maya" sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut "interactive learning" atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan.

Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas. Dalam tulisan itu, secara ilustratif disebutkan bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini, akan tetapi berupa: komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara,

Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.

Meskipun teknologi informasi komunikasi dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran

Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu:

  1. Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru,
  2. Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa
  3. Dan guru
  4. Guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencaqpai standar akademik.
Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam 7
pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses pembelajaran dipandang sebagai:

  1. Sesuatu yang sulit dan berat,
  2. Upaya mengisi kekurangan siswa,
  3. Satu proses transfer dan penerimaan informasi,
  4. Proses individual atau soliter,
  5. Kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi.
  6. Suatu proses linear.
Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai:

  1. Proses alami.
  2. Proses sosial.
  3. Proses aktif dan pasif.
  4. Proses linear dan atau tidak linear.
  5. Proses yang berlangsung integratif dan kontekstual.
  6. Aktivitas yang berbasis pada model kekuatan, kecakapan, minat, dan kulktur siswa.
Aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas, perolehan hasil, dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok.

Hal itu telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari Sebagai penyampai pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban, menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator pengetahuan, dan mitra belajar;  dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu:

  1. Dari penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses pembelajaran,
  2. Dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan,
  3. Dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.

D. TIK DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Peran teknologi di bidang pendidikan tidak dapat kita hindarkan. Misalnya, kita tidak mungkin mengecek jumlah siswa yang masuk dari tahun ke tahun hanya dengan catatan di buku tahunan saja. Tentu komputer akan mengambil peran dalam bidang ini. Begitu pun dengan pekerjaan sesederhana apapun pekerjaan akan lebih efisien jika kita menggunakan komputer. Pendidikan yang menggunakan sarana TIK, terutama internet yang umumnya disebut e-ducation.

Kecenderungan dunia pendidikan di Indonesia pada masa mendatang antara lain sebagai berikut.
  1. Berkembangnya pendidikan terbuka dengan cara belajar jarak jauh (distance learning). Kemudahan untuk mrnyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh perlu dimasukkan sebagai strategi utama. Pendidikan jarak jauh dapat memanfaatkan teknologi internet secara maksimal, dapat memberikan efektifitas dalam hal waktu, tempat dan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan.
  2. Terjadi sharing resource (berbagi sumber daya) antar lembaga pendidikan/pelatihan.
  3. Perpustakaan dan instrument pendidikan lainnya, misalnya guru dan laboratorium berfungsi sebagai fasilitator, bukannya sumber informasi.
  4. Penggunaan perangkat informasi interaktif, seperti CD-ROM multimedia secara bertahap menggantikan papan tulis.

Manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia, antara lain mendapatkan akses ke perpustakaan, direktori sekolah, para pakar dapat melaksanakan kegiatan kuliah secara online, penyediaan layananan informasi akademik institusi pendidikan secara online, dapat melaksanakan kerjasama dengan lembaga lain melalui internet, serta melakukan pemasaran dan promosi hasil karya penelitian secara lebih efisien. Selain itu, kita dapat merancang suatu program artificial intelligence (kecerdasan buatan) untuk membuat model sebuah rencana pengajaran.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi pada bidang pendidikan hat jiwa memungkinkan adanya system belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa dengan dosennya, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen,

SIMPULAN

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi.
  1. Teknologi Informasi adalah meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
  2. Teknologi Komunikasi adalah segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
  3. Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
  4. E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
  5. Pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
  6. Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
DAFTAR PUSTAKA
  • Burhanuddin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Malang : Bumi Aksara, 1994).
  • Dadang Sulaeman dan Sunaryo, Psikologi Pendidikan, (Bandung : IKIP Bandung, 1983).

Langkah-langkah Pembelajaran Kosakata (Mufradat)

Langkah-langkah Pembelajaran Kosakata (Mufradat)

Jika Anda akan mengajarkan kosakata baru, Anda bisa menempuh beberapa langkah yang mungkin bisa membantu Anda:
  1. Guru mengucapkan kosakata (B.Asing) sebanyak dua atau tiga kali dan siswa mendengarkannya.
  2. Guru menuliskan kataa di papan tulis dengan harakat yang lengkap.
  3. Guru menjelaskan makna kata dengan cara yang sesuai dengan karakter kata tersebut.
  4. Guru menggunakan kata tersebut dalam satu atau beberapa kalimat sempurna supaya siswa lebih memahami makna dan fungsi gramatikalnya.
  5. Siswa menirukan  pengucapan salah satu kalimat tersebut secara bersama-basama, kemudian secara kelompok , lalu secara individu.
  6. Guru membimbing cara menulis kata tersebut kepada siswa, lebih-lebih jika kata tersebut memiliki tingkat kesulitan dalam penulisan.
  7. Guru menulis  makna kata dan kalimat yang dapat membantu kejelasan makna di papan tulis.
  8. Siswa menulis kosakata-kosata baru yang sudah di tulis oleh guru di papan tulis
  9. Siswa menulis kata, arti kata, dan contoh kalimat di buku masing-masing.
Sembilan (9) langkah di atas dapat memwujudkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Siswa dapat mendengarkan contoh pengucapan kata dari guru sebelum meniru dan mengulanginya.
  2. Siswa mengulang-ulang pengucapan kata setelah memahami maknanya.
  3. Langkah-langkah ini besifat komprehensif, dimana guru mengucapkan kata, mengulang-ulangnya, menulisnya di papan tulis, meletakannya dalam kalimat sempurna, dan menulis maknanya. Begitu juga siswa siswa, mendengarkan pengucapan kata, menulisanya, membacanya, dan mengulangnya.
  4. Siswa mengulang-ulang kara dalam konteks (kalimat sempurna).

Referensi penulisan buku Ali Al-Khuli.
Pengertian, Perbedaan ilmu, Pengetahuan dan Sains

Pengertian, Perbedaan ilmu, Pengetahuan dan Sains

Kata ilmu jika dilihat dari segi bahasa, ilmu berasal dari bahasa arab yaitu al-ilmu, atau dari bahasa Yunani yaitu logos, yang berarti pengetahuan.

Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab kata ” Al-ilm” berarti pengetahuan (knowledge). Sedangkan kata ilmu dalam bahasa indonesia biasanya merupakan terjemahan dari science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari Al-ilm dalam bahasa Arab. Maksudnya agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung membedakan kata ilmu (science) dengan kata ilmu (knowledge).[1]

Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait. 

Definisi ilmu bergantung pada cara kerja indra masing-masing individu dalam menyerap pengetahuan dan juga cara berfikir setiap individu dalam memproses pengetahuan yang di perolehnya. Selain itu juga, dalam definisi ilmu bisa berlandaskan aktifitas yang dilakukan ilmu itu sendiri. Kita dapat melihat hal itu melalai metode yang digunakan.

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktifitas panca indra untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadanya. Sedangkan, ilmu menghendaki lebih jauh, luas dan dalam dari pengetahuan. 

Berpikir pada dasarnya merupakan proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Gerak pemikiran ini dalam kegiatannya mempergunakan lambang yang merupakan abstraksi dari obyek yang sedang kita pikirkan. Salah satu lambangnya yaitu dengan bahasa, maksudnya dengan bahasa obyek-obyek kehidupan yang konkret dapat dinyatakan dengan kata-kata.

Istilah sains berasal dari bahasa Latin “science” dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata sains . Akhir-akhir ini para ahli bahasa Indonesia sepakat bahwa setiap kata serapan dari bahasa Inggris yang berakhiran “nce” ditambahkan “s” diakhir kata dan tidak berarti menunjukkan jamak atau banyak. 

Hans Reichenbach menyebutkan bahwa sains disebut juga dengan pengetahuan yang bersifat bisa memprediksi (Predictive Knowledge). Dengan demikian maksudnya yang penting adalah mengetahui dan bisa menjelaskan alasan, konteks, ruang lingkup, maksud, tujuan, dan fungsi dari suatu istilah yang kita pakai sehingga orang lain tidak keliru memaknai hal tersebut. 

Pada intinya, sains adalah bagian kecil dari ilmu atau merupakan salah satu disiplin ilmu yang lebih khusus pada bidang tertentu yakni lebih ke bidang teknologi.

Secara ringkasnya Perbedaan ilmu, Pengetahuan dan Sains , Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktifitas panca indra untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadanya. Sedangkan, ilmu menghendaki lebih jauh, luas dan dalam dari pengetahuan. Sains adalah bagian kecil dari ilmu atau merupakan salah satu disiplin ilmu yang lebih khusus pada bidang tertentu yakni lebih ke bidang teknologi.
-------------------------------------------------
[1] Prof Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: 2010. Hal 3.

Berikut buku-buku yang mungkin bisa membantu Anda dalam kaitan pembahasan ilmu, Pengetahaun dan Sains dalam filsafat.
  1. AF Chalmers, 1982. What is this called Science?, second edition, Milton Kenves: The Open University Press. Hal xv-xvi. 
  2. Ahmad Tafsir, 2002, Filsafat Ilmu, Bandung : Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung 
  3. Irawan, 2007. Filsafat Sains. Bandung: Intelekia Pratama 
  4. Jujun, Suriasumantri. 1999. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 
  5. Jujun, Suriasumantri. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Penebar Swadaya 
  6. Rizal Munir, Misnal Munir. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
*Silahkan beli daftar buku yang ada di atasm saya sangat tidak merekomendasikan halaman ini menjadi referensi untuk karya ilmiah Anda. Karena itu sangat tidak bagus untuk karya ilmiah Anda.
Makalah Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis Plus Referensi Buku

Makalah Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis Plus Referensi Buku

Keanekaragaman struktur bahasa dan unsur-unsur kebahasaan merupakan sesuatu yang sangat komplek dan sulit dipahami. Namun, hal itu merupakan kebutuhan ilmiah dibidang linguistik

A. Latar Belakang

Bahasa hadir dimana-mana, tembus sampai ke pikiran, mengantarai hubungan kita dengan orang lain dan bahkan meresap ke dalam impian. Jelaslah bahwa masyarakat tidaklah mungkin ada tanpa bahasa. Demikian terbiasanya dengan bahasa hingga manusia cenderung menganggapnya biasa-biasa saja. Banyak orang, bahkan yang berpendidikan sekalipun, kurang memahami hakikat yang sebenarnya. Secara berangsur-angsur, para ilmuwan bahasa semakin menghayati alat komunikasi yang ampuh ini. Penting penghayatan akan bahasa ini banyak alasannya, diantaranya banyak persoalan tentang bahasa, ada masalah yang berkaitan dengan disiplin ilmu, dan pengertian akan hakikat kodrat bahasa penting bagi siapa saja.

Keanekaragaman struktur bahasa dan unsur-unsur kebahasaan merupakan sesuatu yang sangat komplek dan sulit dipahami. Namun, hal itu merupakan kebutuhan ilmiah dibidang lunguistik. Hasil yang dicapai sangat bermanfaat terutama dalam menyusun kamus bahasa. Secara umum, ruang lingkup sistem kebahasaan yang mengikat setiap bahasa relatif sama yaitu meliputi sistem fonologi (tata bunyi), sistem morfologi (pembentukan kata), sintaksis (pembentukan kalmat), dan semantik (masalah makna).



B. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud fonologi dalam tataran linguistik umum? 
  2. Apa yang dimaksud morfologi dalam tataran linguistik umum? 
  3. Apa yang dimaksud sintaksis dalam tataran linguistik umum?
C. Tujuan
  1. Mengetahui fonologi dalam tataran linguistik umum. 
  2. Mengetahui morfologi dalam tataran linguistik umum. 
  3. Mengetahui sintaksis dalam tataran linguistik umum.

PEMBAHASAN


A.  FONOLOGI

            Bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa disebut fonologi, yang secara etimologi terbentuk dari kata fon yaitu bunyi dan logi yaitu ilmu. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

          Untuk lebih jelasnya kalau kita perhatikan baik-baik ternyata bunyi [i] yang terdapat pada kata-kata [intan], [angin], dan [batik] adalah tidak sama. Begitu juga bunyi [p] pada kata inggris , , dan , juga tidak sama. Ketidaksamaan bunyi [i] dan bunyi [p] pada deretan kata-kata diatas itulah sebagai salah satu contoh objek atau sasaran studi fonetik.Dalam kajiannya fonetik, akan berusaha mendeskripsikan perbedaan bunyi-bunyi itu serta menjelaskan sebab-sebabnya. Sebaliknya, perbedaan bunyi [p] dan [b] yang terdapat misalnya pada kata [paru] dan [baru] adalah menjadi contoh sasaran studi fonemik, sebab perbedaan bunyi [p] dan [b] itu menyebabkan berbedanya makna kata [paru] dan [baru] itu.

1.    Fonetik
Fonetik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Kemudian menurut urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, dibedakan adanya tiga jenis fonetik, yaitu fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik auditoris.
Fonetik artikulatoris disebut juga fonetik organis atau fonetik fisiologis, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam mengahasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan. Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam. Sedangkan fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik ini yang paling berurusan dengan ilmu linguistik adalah fonetik artikulatoris sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia. Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, dan fonetik auditoris lebih berkenaan dengan bidang kedokteran.

2.    Fonemik  
Identitas fonem sebagai idebtitas pembeda. Dasar bukti identitas fonem adalah apa yang dapat kita sebut “fungsi pembeda” sebagai sifat khas fonem itu. Seperti contoh tentang rupa dan lupa. Satu-satunya perbedaan diantara kedua kata itu ialah menyangkut bunyi pertama, (r) dan (l). Oleh karena semua yang lain dalam pasangan kedua kata ini adalah sama, maka pasangan tersebut disebut “pasangan minimal” : perbedaan di dalam pasangan itu adalah “minimal”. Dengan perkataan lain, perbedaan antara l dan r adalah apa yang membedakan dari sudut analisis bunyi rupa dan lupa. Maka dari itu, l dan r dalam bahasa Indonesia merupakan fonem-fonem yang berbeda identitasnya. Objek penelitian fonemik adalah fonem yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata.

Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonem atau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan satuan bahasa yang pertama. Kalau ternyata kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, maka berarti bunyi tersebut adalah sebuah fonem, karena dia bisa atau berfungsi membedakan makna kedua satuan bahasa itu.

Fonem itu berjenis-jenis. John Lyons (1968), Pater Ladefoged (1975), Gleason (1958) mengatakan bahwa fonem setiap bahasa dapat dibagi atas :

  1. Fonem segmental adalah fonem yang dapat dianalisis keberadaanya. Fonem segmental dapat dibagi  atas vokal dan konsonan.
  2. Fonem suprasegmental adalah fonem yang keberadaannya harus bersama-sama fonem segmental.

B.  MORFOLOGI

1.      Pengertian morfologi
Morfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, klasifikasi kata-kata. Dalam linguistic bahasa Arab morfologi ini adalah tashrif yaitu perubahan satu bentuk (asal) kata menjadi bermacam-macam bentukan untuk mendapatkan makna yang berbeda, yang tanpa perubahan ini, makna yang berbeda itu akan terlahirkan.

Dalam pembahasan mengenai fonologi, kita memahami bahwa fonem adalah kesatuan bunyi terkecil yang membedakan arti, seperti pada pasangan mata-mati, kedua bunyi /a/ dan /i/ adalah dua fonem yang membedakan arti. Sekarang kalau kata mati itu dirubah menjadi  kematian atau mati- matian maka dua kata terakhir ini adalah bentukan baru yaitu dengan menambahkan ke dan an dan pengulangan mati ditambah an. Dua kata baru ini mempunyai arti yang berbeda dari makna kata asal mati. Perubahan-perubahan bentuk inilah yang dipelajari morfologi (morphe = form = bentuk). Karena itu ada yang memberi definisi morfem sebagai satu satuan bentuk terkecil yang mempunyai arti. Morfologi ini bukan hanya mencakup studi sinkronik (morphemic), tapi juga sejarah dan perkembangan dan pembentukan kata (historial morphology).

2.      Identifikasi morfem
               Untuk menentukan sebuah satuan bentuk adalah morfem atau bukan, kita harus membandingkan bentuk tersebut didalam kehadirannya dengan bentuk-bentuk lain. Kalau bentuk tersebut ternyata bisa hadir secara berulang-ulang dengan bentuk lain maka bentuk tersebut adalah sebuah morfem. Sebagai contoh (1) : Kedua, ketiga, kelima, ketujuh, dsb.

Ternyata juga semua bentuk ke pada contoh (1) diatas dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan yang mempunyai makna yang sama, yaitu menanyakan tingkat atau derajat. Dengan demikian bentuk ke pada contoh diatas, karena merupakan bentuk terkecil yang berulang-ulang dan mempunyai makna yang sama, bisa disebut sebagai sebuah morfem. Sekarang perhatikan bentuk ke pada contoh (2) berikut : kepasar, kekampus, kedapur, dsb.

           Ternyata juga bentuk ke pada contoh (2) dapat disegmentasikan sebagai satuan tersendiri dan juga mempunyai arti yang sama, yaitu menyatakan arah atau tujuan. Dengan demikian bentuk ke pada contoh diatas juga adalah morfem.

            Dari contoh (1) dan (2) keduanya merupakan morfem yang berbeda, meskipun bentuknya sama. Jadi kesamaan arti dan kesamaan bentuk merupakan cirri atau identitas sebuah morfem.

            Sekarang perhatikan contoh (3) yang juga terdapat pada contoh sebelumnya, kemudian bandingkan dengan bentuk-bentuk lain yang ada pada contoh (3) : meninggalkan, ditinggal, tertinggal, peninggalan, dsb.

            Dari contoh diatas ternyata ada bentuk yang sama, yang dapat disegmentasikan dari bagian unsur-unsur lainnya. Bagian yang sama itu adalah bentuk tinggal atau ninggal (tentang perubahan bunyi t- menjadi bunyi n-). Maka, disini pun bentuk tinggal adalah sebuah morfem, karena bentuknya sama dan maknanya juga sama.

            Untuk menentukan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan, kita memang harus mengetahui atau mengenal maknanya. Perhatikan contoh (4) : menelantarkan, telantar, lantaran. Dari contoh tersebut, meskipun bentuk lantar terdapat berulang-ulang, tapi bentuk lantar itu bukanlah sebuah morfem, karena tidak ada maknanya. Lalu, ternyata kalau bentuk menelantarkan memang punya hubungan dengan terlantar, tetapi tidak punya hubungan dengan lantaran.

3.      Morfem, Morf dan Alomorf 

Seperti halnya dengan bunyi fonetis semata-mata, yang dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung persegi, dan dengan fonem- fonem yang diapit diantara garis kanan, maka morfemmorfem-morfem lazim dilambangkan dengan mengapitnya diantara kurung kurawal. Misalnya, kata Inggris comfort dilambangkan sebagai { comfort }, comfortable sebagai { comfort }+ {-able}, uncomfortable sebagai {comfort}+{-able} dulu, baru {un-}+ {comfortable}, atau (dalam satu rumus) {{un-}{{comfort}{-able}}} (namun rumus ”ganda” seperti itu hanya mungkin bila semua morfem adalah morfem segmental). 

Dalam analisis struktur-struktur morfemis, apa yang diapit diantara kurung kurawal itu disebut (lambang) “morfem”. Kesulitannya (yang deskriptif) dengan pelambangan seperti itu adalah bahwa tidak semua morfem berupa segmental. Namun dapat saja memerlukan kata jamak Inggris feet sebaga{foot}+ (katakana) {jamak}, atau jamak sheep sebagai {sheep} +{Ǿ}. Pelambangan seperti “{jamak}” itu sudah menunjukan bahwa morfem itu merupakan suatu satuan yang abstrak : dapat berupa segmental (utuh atau terbagi) dapat berupa “nol”, dapat juga berupa nada tertentu.

Berbeda dengan morfem itu, almorf-almorfnya adalah jauh lebih konkret, meskipun tetap tidak mutlak perlu berupa segmental. Akan tetapi demi perian yang mudah kita sering membutuhkan suatu bentuk yang kelihatannya cukup konkret. Bentuk konkret yang demikian disebut “morf”. 

Jadi, alomorf adalah perwujudan konkret (didalam pertuturan) dari sebuah morfem. Setiap morfem tentu mempunyai alomorf, entah satu, entah dua atau juga enam buah. Atau bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya, sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya.

4.      Klasifikasi morferm

Morfem-morfem dalam setiap bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria. Antara lain berdasarkan kebebasannya, keutuhannya,maknanya, dsb [6]

a.      Morfem bebas dan morfem terikat
Morfem bebas adalah morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam pertuturan. Contoh (dalam bahasa Indonesia) : pulang, makan, dan bagus adalah termasuk morfem bebas.
Morfem terikat adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak dapat muncul dalam pertuturan. Contohnya adalah semua afiks dalam bahasa Indonesia.

b.      Morfem utuh dan morfem terbagi
Perbedaan morfem utuh dan morfem terbagi berdasarkan bentuk formal yang dimiliki morfem tersebut : apakah merupakan satu kesatuan yang utuh atau merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi, karena disisipi morfem lain. Contoh morfem utuh : (termasuk morfem dasar) = {meja}, {kursi}, {kecil}, {laut}, dan {pinsil}, (termasuk morfem terikat) = {ter-},{ber-},{henti},dsb.

Sedangkan contoh morfem terbagi (adalah sebuah morfem yang terdiri dari dari dua buah bagian yang terpisah. Umpamanya pada kata Indonesia kesatuan terdapat satu morfem utuh, yaitu {satu} dan satu morfem terbagi, yakni {ke-/-an}. Dalam bahasa Arab, dan juga bahasa Ibrani, semua morfem akar untuk verba adalah morfem terbagi, yang terdiri atas tiga buah konsonan yang dipisahkan oleh tiga buah vocal, yang merupakan morfem terikat yang terbagi pula. Misalnya morfem akar terbagi {k,t,b} ‘tulis’ merupakan dasar untuk kata-kata : kataba (ia laki-laki telah menulis), katabat (ia perempuan telah menulis,), maktabun (perpustakaan).

c.       Morfem segmental dan morfem suprasegmental
Perbedaan morfem segmental dan morfem suprasegmental berdasarkan jenis fonem yang membentuknya. Morfem segmental adalah morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lihat},{lah},{sikat}dan {ber}. Jadi, semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang dibentuk oleh , dsb. miunsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dsb.

d.     Morfem beralomorf zero
Dalam linguistik deskriptif ada konsep mengenai morfem beralomorf zero tau nol (lambangnya berupa Ǿ), yaitu morfem yang salah satu alomorfnya tidak berwujud bunyi segmental maupun berupa prosodi (unsure suprasegmental), melainkan berupa “kekosongan”

e.      Morfem bermakna leksikal dan morfem tak bermakna leksikal
Perbedaan lain yang biasa dilakukan orang adalah dikotomi adanya morfem bermakna leksikal dan morfem tidak bermakna leksikal. Yang dimaksud dengan morfem bermakna leksikal adalah morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dulu dengan morfem lain. Seperti : {kuda},{pergi},{lari},{merah}. Sebaliknya morfem yang tidak bermakna leksikal tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri, akan mempunyai makna jika digabung dengan morfem lain. Seperti : {ber-},{me-},dan {ter-}.

5.      Jenis Morfem [7]

Morfem yang dileburi morfem yang lain kita sebut “morfem dasar”, dan yang dileburkan itu berupa “imbuhan” atau “klitika” atau bentuk dasar yang lain (dalam pemajemukan) atau yang sama (dalam reduplikasi).
  • Morfem pangkal adalah morfem dasar yang bebas, contohnya: do dalam undo hak dalam berhak. 
  • Morfem akar adalah morfem dasar yang berbentuk terikat. Agar menjadi bentuk bebas, akan harus mengalami pengimbuhan. 
  • Morfem pradasar adalah bentuk yang membutuhkan pengimbuhan atau pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentuk bebas.

C.  SINTAKSIS
1.      Pengertian Sintaksis
          Kata sintaksis berasaldari kata Yunani (sun = ‘dengan’ + tattein ‘menempatkan’. Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.[8] Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan[9]. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal di dalam kata.Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.

Ramlan (1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase .”.

2.      Kata sebagai Satuan Sintaksis
          Dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil, yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar yaitu frase. Maka di sini, kata, hanya dibicarakan sebgai satuan terkecil dalam sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsur-unsur pembentuk satuan yang lebih besar, yaitu frase, klausa, dan kalimat Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-tama harus kita bedakan dulu adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword). Yang merupakan kata penuh adalah kata-kata yang termasuk kategori nomina, ajektifa, adverbia, dan numeralia. Sedangkan yang termasuk kata tugas adalah kata-kata yang yang berkategori preposisi dan konjungsi.[10]

3.      Frase

Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi satah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

Frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal bedanya dengan kata majemuk yaitu kata majemuk sebagai komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna.

Jenis Fase:
1. Frase eksosentrik adalah frase yang komponen komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhan­nya. Misalnya, frase di pasar, yang terdiri dari komponen di dan komponen pasar. Frase eksosentirk biasanya dibedakan atas frase eksosentrik yang direktif dan frase eksosentrik yang nondirektif.
2. Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya atau komponennya memiliki perilaku sintaksias yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, sedang komponen keduanya yaitu membaca dapat menggan­tikan kedudukan frase tersebut.
3. Frase Koordinatif
Frase koordinatif adalah frase yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat dan secara potensial dapat dihubungkan oleh kunjungsi koordinatif.
4. Frase Apositif
Frase apositif adalah frase koordinatif yang kedua k komponenanya saling merujuk sesamanya, dan oleh karena itu urutan komponennya dapat dipertukarkan.

4.      Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada kom­ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar.”

Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat.

Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas dalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya mempunyai subyek dan predikat, dan karena itu mempunyai potensi untuk menjadi kalimat mayor. Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.

Berdasarkan kategori unsur segmental yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal, klausa ajektival, klausa adverbial dan klausa preposisional. Dengan adanya berbagai tipe verba, maka dikenal adanya klausa transitif, klausa intransitif, klausa refleksif dan klausa resprokal. 

Klausa ajektival adalah klausa yang predikatnya berkategori ajektiva, baik berupa kata maupun frase. Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa adverbial. Klausa preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkategori. 

Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata atau frase numerila. Klausa berupasat adalah klausa yang subjeknya terikat didalam predikatnya, meskipun di tempat lain ada nomina atau frase nomina yang juga berlaku sebagai subjek.

5.      Kalimat
Ramlan (1981:6) mengatakan : “kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik”. Kalimat merupakan satuan atau deretan kata-kata yang memiliki intonasi tertentu sebagai pemarkah keseluruhannya dan secara ortografi biasanya diakhiri tanda titik atau tanda akhir lain yang sesuai.

Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa) kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final. Intonasi final yang ada yang memberi ciri kalimat ada tiga buah, yaitu intonasi deklaratif, intonasi interogratif (?) dan intonasi seru (!)
Jenis kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai, kriteria atau sudut pandang. Kalimat inti dan Kalimat Non Inti Kalimat inti atau disebut kalimat dasar, adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmarif. Di dalam praktek berbahasa, lebih banyak digunakan kalimat non inti daripada kalimat inti.

1)   Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat tersebut disebut kalimat tunggal. Kalau klausa di dalam kalimat terdapat lebih dari satu, maka kalimat itu disebut kalimat majemuk. Berdasarkan sifat hubungan klausa di dalam kalimat, dibedakan adanya kalimat majemuk koordinatif (konjungsi koordinatif seperti dan, atau, tetapi, lalu) kalimat majemuk subordinatif (kalau, ketika, meskipun, karena) dan kalimat majemuk kompleks ( terdiri dari tiga klausa atau lebih, baik dihubungkan secara koordinatif maupun subrodinatif atau disebut kalimat majemuk campuran./

2)   Kalimat Mayor dan Kalimat Minor
Kalau klausa lengkap sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap, entah terdiri subjek saja, predikat saja, ataukah keterangan saja, maka kalimat tersebut disebut kalimat minor.

3)   Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal
Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal, atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba. Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan frase atau frase verbal, bisa nomina, ajektiva, adverbial, atau juga numeralia.

4)   Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat
Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraf atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap, atau menjadi pembuka paragraf atau wawancara tanpa bantuan konteks.

Dalam bahasa Indonesia intonasi tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi, melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis. Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa. Ciri-ciri intonasi berupa tekanan tempo dan nada.

6.      Wacana

Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan gramatikal tertinggi atau terbesar. Persyaratan gramatikal dalam wacana akan terpenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekhohesian maka akan terciptalah erensian. 

Alat-alat gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif antara lain : konjungsi, kedua menggunakan kata ganti dia, nya, mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis, ketiga menggunakan elipsis. 

Selain dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koherens dapat juga dibuat dengan bantuan pelbagai aspek semantik. 

Berbagai jenis wacana sesuai dengan sudut pandang dari mana wacana itu dilihat. Pertama-tama di lihat adanya wacana lisan dan wacana tulis berkenaan dengan sarannya, yaitu bahasa lisan dan bahasa. Dilihat dari penggunaan bahasanya ada wacana prosa dan wacana puisi. 

Wacana adalah satuan bahasa yang utuh dan lengkap, maksudnya adalah wacana ini satuan ”ide” atau ”pesan” yang disampaikan akan dapat dipahami pendengar atau pembaca tanpa keraguan, atau tanpa merasa adanya kekurangan informasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana itu.

SIMPULAN
         Ruang lingkup sistem kebahasaan yang mengikat setiap bahasa relatif sama yaitu meliputi sistem fonologi (tata bunyi), morfologi (pembentukan kata), sintaksis (pembentukan kalmat). Fonologi merupakan bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membicarakan runtunan bunyi-bunyi bahasa. Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi fonetik dan fonemik.
         Morfologi mempelajari dan menganalisis struktur, bentuk, klasifikasi kata-kata. Dalam kajian morfologi dikenal istilah morferm yang didalamnya terdapat jenis dan klasfikasi dari morferm itu sendiri.
Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat atau wacana. Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.
DAFTAR PUSTAKA
  • Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-asas Linguistik Umum. Gadjah Mada University Press
  • Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : PT. Rineka Cipta
  • Alwasilah, A. Chaedar. 2011. Beberapa Madzhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung : Angkasa.
  • Pateda, Mansoer. 2011. Linguistik Sebuah Pengantar. Bandung : Angkasa
Isi materi menurut halaman dalam buku:
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta, 2007, hal 102
J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, Yogyakarta, 2010, hal 68
Dr. Mansoer Pateda, Linguistik Sebuah Pengantar, Bandung, 2011, hal. 69
A. Chaedar Alwasilah, Linguistik Suatu Pengantar, Bandung,1993, hal 110
J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, Yogyakarta, 2010, hal 105
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta, 2007, hal 151
J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, Yogyakarta, 2010, hal 98
Dr. Mansoer Pateda, Linguistik Sebuah Pengantar, Bandung, 2011, hal. 97
J.W.M. Verhaar, Asas-asas Linguistik Umum, Yogyakarta, 2010, hal 161
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta, 2007, hal 219
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta, 2007, hal 222
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Jakarta, 2007, hal 235

*Silahkan perbaiki jika ada kesalahan, dan saya sarankan untuk membaca bukunya secara langsung.

Ramuan Cara Alami Mengatasi Jerawat


Mentimun dan Jeruk nipis dapat Anda gunakan untuk merawat jerawat di permukaan kulit. Sementara temu lawak, bisa diseduh dan mengobati jerawat dari dalam tubuh. Berikut cara mengolah tiga bahan alam ini menjadi ramuan untuk mengatasi jerawat:



  1. Ramuan jeruk nipis:
    Pilih jeruk nipis yang telah tua satu buah, lalu belah. Aplikasikan untuk menggosok muka yang berjerawat, satu kali sehari sebelum tidur.
  2. Ramuan mentimun:
    Ambil satu buah mentimum, potong menjadi 2-3 bagian. Aplikasikan pada wajah dengan menggosok muka yang berjerawat satu kali sehari sebelum tidur.
  3. Ramuan temu lawak:
    Siapkan dua jari temu lawak, cuci bersih lalu iris. Ambil asam dua jari dan gula merah dua jari. Rebus semua bahan dengan empat gelas air hingga tersisa setengahnya. Dinginkan kemudian saring. Minum satu gelas ramuan ini dua kali sehari.